Selasa, 07 Mei 2013

Bila Mahasiswa Enggan Menulis, Mau Jadi Apa?

Menulis bukan sekedar merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan paragraf demi paragraf. Lebih dari itu, menulis merupakan sebuah seni sekaligus sarana menuangkan gagasan. Maka dari tulisan kita jadi mengetahui pemikiran seseorang, tinggi rendahnya intelektual, dangkal atau dalamnya wawasan, serta tinggi rendahnya jiwa seni sang penulis. Lantaran betapa pentingnya kegiatan satu ini, para sejarawan sepakat bahwa yang membedakan era pra sejarah dengan era sejarah adalah tulisan. Sebuah suku jauh di pedalaman yang hingga hari ini belum mengenal tulisan tetap tak beranjak dari keseharian berburu dan meramu. Di belahan dunia lain, manusia telah merambah era IT berkat berkembangnya tulisan. Namun apa jadinya bila mahasiswa yang konon merupakan golongan terdidik, generasi penerus bangsa malas menulis? Akibatnya, muncullah generasi berjas almameter tetapi pemikirannya tak lebih baik (maaf) dari tukang ojek. Terjadinya saling ejek antar fakultas yang berujung pada tawuran menunjukkan bahwa intelektual mereka jarang diasah. Malas menulis bukanlah sekedar malas menggerakkan jarinya di atas keyboard. Lebih dari itu, hal tersebut merupakan mandeknya intelektual dan mendorong lahirnya budaya serba instan. Menarik perhatian, ketika seorang dosen PTN di Jawa Timur curhat pada sebuah koran harian di Jogja. Beliau mengeluhkan tentang seorang mahasiswa yang tingkat kemalasannya sudah kelewat batas. Bayangkan! Ketika sang dosen memerintahkan para mahasiswanya menyusun makalah sebagai bahan presentasi, mahasiswa tersebut tanpa menoleh kanan kiri langsung copy paste sehingga tanpa sadar, tulisan yang baru saja ia copy paste adalah goresan pena dosennya. Selanjutnya dapat ditebak bahwa muka si mahasiswa merah padam di depan kelas menerima imbalan dari pekerjaannya. Tak cukup di situ, generasi copy paste ini terus bermetamorfosa menjadi generasi serba instan dan malas bekerja keras. Dalam prakteknya, mereka akan berfikiran, “Buat apa susah - susah belajar, bila untuk jadi PNS dapat diraih dengan cara menyuap oknum”. Dalam level lebih tinggi, karakter serba instan ini cukup efektif mempengaruhi pola pikir para birokrat. “Buat apa susah - susah untuk menyejahterakan rakyat, bila suara mereka dapat dibeli. Lebih baik anggaran buat rakyat saya korupsi. Teman - teman anggota dewan, toh sama saja dengan saya. Siapa yang tak mau kaya mendadak. Mumpung masih jadi pejabat, ya dipuas - puasin korupsinya”. Mental macam itu tak mungkin timbul dengan tiba - tiba. Karakter demikian sudah terbentuk semenjak mereka berstatus mahasiswa atau mungkin di bawahnya lagi. Praktek korupsi dalam tataran pelajar dan mahasiswa dapat berupa plagiatisme serta contek menyontek. Semua itu lagi - lagi berpangkal dari sifat malas. Jadi bila anda mahasiswa yang malas menulis jangan anggap remeh! Kelak penyakit malas itu akan tumbuh menjalari aspek - aspek lain dan akhirnya mengendap menjadi sebuah watak korup yang berurat akar. Terkait gejala malas menulis ini, tak afdhol bila kita tak menyajikan contoh nyata. Adanya facebook ternyata bukannya menjadikan generasi muda aktif menuangkan gagasan dalam tulisan. Yang terjadi justru sebaliknya. Facebook acapkali hanya berperan sebagai ajang gosip, ngobrol, ngelantur sana sini dalam bentuk tulisan. Coba perhatikan status para facebooker yang tak jauh - jauh dari kata berikut : selamat bermalming, semoga menyenangkan eaaa… cewek iki ayu tenan rekkk ngopi yukkk aku mo shopping dulu. siapa mo ikut??? Tentunya kita bisa menambahkan beragam contoh lain yang isinya menunjukkan bahwa situs jejaring sosial acapkali digunakan sebagai sarana mengobrol sana - sini tak jelas ujung dan faedahnya. Bila kita memperhatikan sekelompok mahasiswa yang tengah online di laboratorium komputer, maka dapat dipastikan bahwa sebagian besar dari mereka sedang asyik ber fb atau ber twit ria. Dengan kondisi demikian, tak heran bila orang yang pandai bicara selalu menempati posisi “terhormat” di layar kaca. Perhatikanlah! Pelawak yang hobi mencela kekurangan diri atau orang lain, hobi menyinggung hal - hal berbau porno justru mendapat honor selangit. Sebaliknya, mereka yang ahli dalam menggubah kata, menggores pena hanya sedikit yang mendapat tempat di masyarakat. Saya yakin seyakin - yakinnya, tak sedikit kalangan mahasiswa yang tak mengenal Buya Hamka atau Pramoedya Anantatoer. Sebagai perbandingan obrolan murahan via fb, dapatlah kita lihat barisan kata berikut : “Gedung - gedung tinggi menjulang angkasa tampak gagah di kanan kirinya. Kemilau diterpa siluet senja. Ia hanya menengadah ke atas. Bingung dengan sinergi kehidupan baru yang serba mewah. Harus kemanakah dia saat ini? …”. Beberapa kalimat di atas merupakan penggalan dari novel “Xie Xie Ni De Ai” yang ditulis seorang dengan nama pena Mell Shaliha. Penulis adalah seorang mantan TKW. Ia bukanlah seorang mahasiswa. Sekali lagi bukan mahasiswa. Akan tetapi, gaya bahasa dan nilai estetika yang tersirat dalam baris demi baris kalimatnya melukiskan betapa tinggi jiwa seni dan betapa luas wawasan yang terpendam dalam dirinya. Bandingkan dengan bermacam status fb para mahasiswa yang isinya pun tiada nilai bobotnya. Di akhir tulisan saya hendak menyeru kepada kaum mahasiswa. “Tak perlulah kalian berteriak lantang di jalanan, berantas korupsi!Adili koruptor!”. Selama kalian gemar menyontek, hobi plagiat, dan tak jauh dari copy paste dalam setiap tugas kuliahmu, maka sungguh engkau telah mempersiapkan diri sebagai koruptor masa depan!!!!!!!!!!!!!!!.

 Oleh : Muhammad Karyono Sumber :
www.kompasiana.com

Minggu, 05 Mei 2013

The Universal Language of Manner

Seringkali kita dihadapkan kendala berupa benturan budaya (cultural shock) dalam pergaulan kita. Apa yang baik di Indonesia belum tentu baik di negeri Arab. Apa yang umum di Arab belum tentu dapat diterima di India.

Begitu pula yang terjadi di China, Inggris, Afrika serta belahan bumi lainnya. Sebagai contoh, memegang kepala seseorang di Qatar bagi orang Arab merupakan salah satu bentuk ‘penghargaan, sayang, perhatian’ dan lain-lain arti yang positif. Namun hal ini tidak berlaku di Indonesia.

Sebaliknya, menepuk pantat seseorang di negeri kita (tentu saja sesama jenis: Red.) dalam batas-batas tertentu dapat diterima. Utamanya sesame teman. Tapi tabu di Arab dalam pergaulan.

Oleh sebab itu, mengukur kebaikan atau nilai perbuatan seseorang bisa jadi sifatnya sangat relatif karena budaya yang beragam ini.

Akan tetapi, sebenarnya ada tiga kosa kata (vocabulary) yang dapat dijadikan acuan untuk mengukur apakah seseorang itu sopan atau baik perilakunya dari sudut pandang percakapan. Percakapan ini memegang peran penting dalam pergaulan.

Dikatakan dalam suatu Riwayat bahwa ‘Lisan yang baik dapat mengantarkan kita ke Surga’. Itu berarti, bahwa baik buruknya seseorang dapat diukur melalui percakapannya. Kata-kata apa yang diucapkannya. Bukan karena duit, kekayaan atau cara berpakaiannnya. Apalagi karena ijazahnya.

Jika demikian, tiga buah kata-kata itu apa saja?

Sorry

Kata ‘maaf’ (sorry) sangat umum dan lazim digunakan. Apakah itu untuk membuka pembicaraan, meminta bantuan, kekuatiran menyinggung perasaan atau fisik orang lain, memohon pertolongan, menyita waktu seseorang, memulai pidato dan lain-lain.

Orang yang pelit menggunakan kata ‘maaf’ ini bisa saja dianggap tidak santun, kurang ‘tata krama’, tidak memiliki etika bahkan ‘kodo’ orang Jawa mengistilahkan. Karena itu, memulai kata ‘maaf’ jika kita bertemu pertama kali dengan seseorang yang tidak kenal merupakan expresi yang paling tepat, utamanya jika kita mau minta petunjuk atau memohon pertolongan. Betapapun amat kecil sekali ukurannya.

Misalnya: “Maaf Pak, menganggu sebentar boleh?” Ungkapan ini amat umum dipakai. Meski demikian sederhana, orang yang sombong, angkuh atau tinggi hati, merasa tidak perlu. Mereka menganggap penggunaan kata seperti ini berarti buang-buang waktu dan tidak efisien. Dalam Bahasa Inggris memiliki ekspresi lain, bukan hanya ‘sorry’ tapi juga: ‘Excuse me’ atau ‘ pardon me’ apabila kita meminta sang pembicara untuk mengulangi apa yang dikatakan lantaran kurang/tidak jelas perkataannya.

Thanks

Kata ‘terimakasih’ (thanks) sangat penting kedudukannya. Karena begitu utamanya dalam pembicaraan kita sehari-hari, sehingga orang yang jarang menggunakan kata ‘terimakasih’ ini dianggap sebagai orang yang pelit atau tidak pandai bersyukur.

Orang Inggris paling senang menggunakan kata ‘Thanks’ ini, sekalipun untuk urusan yang sangat sepele atau tidak perlu dalam pandangan kita. Misalnya: seorang anak yang diminta ayahnya untuk mengambilkan kertas kecil buat sang ayah yang sedang berbicara lewat telepon. Sang ayah bilang: ‘Trims!”

Begitu pentingnya penggunakan ekspresi ini, sampai-sampai orangtua tidak segan-segan setiap kali menggunakannya, dipakai di rumah serta disampaikan kepada anak-anaknya. Sesuatu yang jarang sekali dpraktikan oleh orang kita bahkan di India sana.

Kita, orangtua umumnya tidak menyampaikan kata ‘terimakasih’ atas pemberian atau bantuan yang diberikan oleh anak-anak terhadap kita. Apakah itu lantaran sudah kewajiban anak-anak terhadap orangtua atau karena hak orangtua untuk mendapatkannya? Wallau a’lam!

Yang jelas, dalam setiap akhir pembicaraan, pidato, surat menyurat, komunikasi lewat telepon, fax, sms, dan masih rentetan jumlah lainnya, ketika dibumbuhi dengan kata-kata ‘thanks’ ini, orang lain merasa dihargai atau dihormati.

Sebaliknya, orang yang jarang atau tidak mau menggunakannya bisa berisiko besar, lantaran dianggap sebagai orang yang tidak tahu diri, pelit serta tidak pandai bersyukur. Padahal dalam ajaran Islam, orang yang pandai bersyukur akan digandakan rejekinya serta ditambah nikmatnya.

Please

Kata ‘tolong’, ‘minta tolong, ‘mohon’ atau singkatnya ‘please’ dalam bahasa Inggris, tidak kalah penting peranannya guna mengangkat reputasi kita sebagai manusia yang beradab. Kata-kata maaf ini amat umum dipakai oleh orang-orang besar dalam banyak kesempatan. Mulai dari pertemuan formal, informal, surat menyurat, permohonan, meminta bantuan, sampai menutup sebuah pembicaraan yang disertai dengan himbauan, sekalipun pada hakikatnya himbauan ini bukan untuk kepentingan dia sendiri.

Betapa mulia kata-kata ‘tolong’ ini sehingga lantaran menggunakannya, orang lain bisa dibuat ‘takluk’, dan ‘terpaksa’ ‘menyetujui’ atau ‘memenuhi’ permintaan kita. Sebagai contoh: “Bisa minta tolong ambilkan penghapus spidol ya Mas?” pinta seorang guru terhadap siswanya. Sang siswa akan merasas dihargai, bukan diperintah, lantaran dimulai dengan kata-kata ‘tolong’ ini. Sebuah ungpakan yang mengandung nilai amat tinggi dalam pergaulan antar manusia.

Sebaliknya, orang akan mendapatkan predikat ‘sombong’, ‘angkuh’ atau ‘sok’ bila pelit menggunakan kata ini, seolah-olah dia bisa berdiri sendir, tanpa bantuan orang laini. Dia memandang orang lain kecil, sementara dia lupa bahwa sekiranya berdiri dikejauhan, dia juga kelihatan kecil dalam pandangan orang lain.

Kesimpulan

Bisa saja kita tidak pandai berbicara. Pula tidak punya banyak harta, apalagi gelar. Akan tetapi, menguasai hanya tiga kosa kata ‘Maaf (sorry), Terimakasih (thanks) serta Mohon/Tolong (Please), percayalah, nama baik akan bisa terangkat.

Namun demikian, penggunaannya tentu saja harus dalam batas-batas yang wajar, bukannya obral, agar tidak terkesan bahwa kita ini seperti pelawak saja! Atau, main-main dengan ungkapan. Apalagi jika tidak diikuti dengan ekspresi wajah yang tulus. Percuma kita mengatakan ‘thanks, sorry atau please’ jika wajah kita cemberut dan mahal senyum.

Karena itulah, untuk menjadi orang yang baik, tiga kata tersebut bisa menjadi senjata ampuh, apakah untuk kepentingan sosial, keagamaan, bisnis maupun profesi. Tanpa pandang bulu.

Jika anda ingin sukses, ini kiat yang ampuh. Sebaliknya, betapapun modal anda besar dalam bisnis, gelar anda berentetan di depan dan belakang nama anda, tingkat pengetahuan anda selangit, jabatan anda tinggi, tanpa memiiki ketrampilan menggunakan ketiga kata-kata tadi, cepat atau lambat, anda akan tahu hasilnya!

Wallahu a’lam!



Oleh : Syaifoel Hardy

Doha, 11 March 2011

Sumber : www.eramuslim.com

Ayat Kursi

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka ditimpa was-was dari syetan, mereka mengingat Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya" (QS. Al a'raaf : 201).
Was-was adalah keadaan dimana orang tidak bisa bersikap dengan tegas atas keadaan dirinya sehingga jiwa terombang-ambing.
Ada beberapa orang yang memahami Alqur'an dengan berbagai macam dalil dan kebutuhannya. Ada yang membaca Alqur'an sekedar untuk pelipur lara dari kesedihannya, dan dengan demikian terobatilah rasa dukanya. Ia mendasari alasannya dengan dalil bahwa Alqur'an itu obat. (Ash shifa'). Bagi orang-orang ahli hikmah, Alqur'an itu adalah sebuah mu'jizat yang bisa di gunakan untuk rajah, mantra, pengobatan, dan jampi-jampi atau wirid-wirid untuk memohon kekuatan kepada Allah. Dasar yang dipakai adalah pendapat seperti kata Ibnut Tien :
Menangkal atau merajah, menawar mu'awwidzat dan lain-lainnya dari nama-nama Allah, itulah "thibburruhany". Apabila diucapkan oleh lisan Al abrar, hasilnya kesembuhan dengan idzin Allah ( Al itqaan 2-165)
Kata Al qurthuby :
dibolehkan ruqyah dengan kalamullah dan nama-nama-Nya, jika dengan doa-doa yang diterima dari Nabi Saw sendiri, tentu lebih disukai (Al itqaan :2-166)
Ada sebagian orang yang memahami Alqur'an dengan pengertian yang sempurna, bahwa Alquran itu adalah tuntunan untuk memahami maksud Allah di dalam perintah dan larangannya. Seperti dalam ayat-ayat yang menganjurkan untuk bermuamalah (jual-beli), bercocok tanam, memperhatikan alam semesta dalam mengatur sebuah negara, dan menjaga kesehatan baik dari segi makanan maupun menjaga kondisi fisik. Alqur'an adalah hudan (petunjuk), yang menuntun kita untuk berbuat apa yang semestinya menurut Allah agar kita mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Misal nya ada sebuah ayat yang berbunyi "kuluu wasyrabuu …." - Makanlah dan minumlah- Ayat ini kalau tidak difahami dengan benar akan menjadi sebuah peristiwa salah kaprah di dalam penerapannya … sehingga ayat tersebut hanya diulang-ulang dibaca dengan alasan, bahwa dengan membaca ayat ini akan mendapatkan karomah atau kelebihan dari yang menjaga ayat atau huruf dari Alqur'an.Mungkin bagi orang yang mengerti bahasa Arab, akan tersenyum mendengar orang yang membaca ayat ini, ketika melihat orang Indonesia mewiridkan ..makanlah..minumlah ..makanlah minumlah .. makanlah minumlah .. makanlah .. minumlah makanlah minumlah … sebanyak seribu kali ….. Atau penegasan ayat yang mengatakan bahwa Allah itu sangat kuat, sangat dekat, Maha melihat, Maha penyantun , Maha kuasa atas segala sesuatu, dan Maha mendengar….Jika hal ini hanya dibaca diulang-ulang tidak akan membawa dampak kepada perubahan mental atau keimanan seseorang. Sebab kalau tidak difahami sebagai makna sebenarnya, orang akan tetap mencuri, berbohong, mengeluh, dan takut …Akan tetapi jika kita mengerti akan maknanya dengan benar dan menerapkan sebagai pengertian secara dewasa, kita tidak akan berani berbohong karena Allah sangat mendengar bisikan hati kita, kita tidak akan mengeluh karena Allah sangat memperhatikan manusia yang mau mendekat, kita tidak akan berbuat korupsi karena Allah selalu mengawasi perbuatan kita setiap saat…..
Begitu juga dengan bacaan ayat kursi yang diwiridkan. Saya tidak menyalahkan orang yang mendawamkan bacaan ayat ini, karena Rasulullah sendiri menganjurkan untuk sering membacanya, yang tujuannya agar memahami isi kandungan ayat tersebut, yaitu membuka hijab manusia, untuk menyadari bahwa Dialah Allah, tiada Tuhan yang wajib disembah melainkan Dia, yang senantiasa hidup dan menguasai dan memelihara kepentingan hamba-Nya. Tidak dipengaruhi oleh kantuk dan tidak pula oleh tidur. Tuhanlah yang mempunyai segala apa yang dilangit dan segala apa yang di bumi. Siapakah gerangan yang memberi syafaat di sisi-Nya dengan tiada seizin-Nya. Ia mengetahui apa yang dihadapan mereka dan apa yang dibelakang mereka, sedang mereka tiada meliputi (mengetahui) sesuatu dari ilmu-Nya melainkan sekedar yang Tuhan kehendaki, termasuk segala urusan langit dan bumi dan tiada berat lagi bagi Allah memelihara langit dan bumi itu, dan Allah itu maha Tinggi lagi Maha Besar (Ayat Kursi).
Maksud ayat ini adalah agar kita menyadari bahwa Allah itu sangat luas kekuasaanNya, semua dalam liputannya (pengawasannya), Dia tidak dipengaruhi oleh kantuk dan tidur. Dia mengetahui apa yang dibelakang (tersembunyi) dan apa yang di hadapan kita. Sehingga jika kita memahami ayat ini secara benar maka tidak-lah mungkin orang akan berbuat seenaknya, seperti korupsi, berdusta, curang dan pengrusakan alam sekitarnya. Akan tetapi jika ayat ini hanya dijadikan sebuah wiridan, tanpa mengerti maksud tujuan ayat tersebut, yang terjadi malah sebaliknya, akan terjadi arogansi si pembaca karena kadang si pembaca malah menunggu bantuan dari khadam pemelihara ayat-ayat tersebut sehingga menjadikan dirinya terjebak kedalam nilai kesyirikan yang di kutuk oleh Allah.
Saya sering mendengarkan orang berbicara mengenai wirid yang di dawamkan akan mempunyai khadam pembantu yang akan selalu menolong siapa saja yang mengamalkannya. Hal ini sangat bertentangan dengan ayat tersebut yang menegaskan bahwa Allah adalah Sang Penolong, Yang memelihara semua makhluk-Nya, tempat meminta.
Agar kita tidak terjebak dengan pengertian yang keliru, maka hendaklah ketika kita membaca ayat kursi, menghayati maksud ayat tersebut. Kita di perintahkan bersandar kepada Allah, janganlah engkau takut karena Allah mengawasi kita …percayakan semua urusan kepada petunjuk Allah. Di dalam mewiridkan, jangan sedikitpun mengharapkan datangnya petunjuk dari selain Allah (misalnya khadam, orang berjubah putih, atau orang yang mengaku wali dll), hanya Allah tujuan kita, selain itu kita tolak ! Ayat kursi kita jadikan sebuah prinsip hidup di dalam bertauhid kepada Allah.

Mari kita coba menghayati prinsip-prinsip itu dalam kehidupan kita….
Ya Allah , Tiada Tuhan kecuali Engkau ….
Ya Allah Engkau sedang memperhatikan gerak-gerik hatiku, nafasku, fikiranku, dan aliran darahku…..
Ya Allah …Engkau melihat perbuatanku yang lalu dan yang akan datang ..karena Engkau tidak pernah tidur…dan Engkau yang tahu kejadian yang akan datang …yang tersembunyi dan yang dhahir, karena Engkau yang Maha Ghaib.


Ya Allah Engkaulah yang memelihara alam ini , dan yang menjaga Arsy.
Ya Allah dengan segala kerendahan hatiku aku berserah dan takluk dihadapan-Mu karena Engkaulah yang Maha Kuasa, Yang Meliputi dan Maha Melihat …..
Inilah prinsip yang harus kita terapkan setelah membaca makna ayat kursi …bukan sekedar untuk dibaca dan di ulang-ulang (wirid)….. dengan demikian anda akan keluar dari persoalan pengaruh secara kejiwaan seperti pada mimpi anda (object to be a victim) Seperti sebuah ayat yang sebut diatas, tentang perintah makan dan minum …jika ayat-ayat ini hanya di baca dan diwiridkan, kita tidak akan mendapatkan pesan apa yang diinginkan oleh Allah yaitu ..memakan dan meminum, yang tujuannya untuk membangun tubuh menjadi tumbuh dan sehat …..
Ayat kursi merupakan ilmu pamungkasnya orang-orang mukmin jika diterapkan dengan benar…dia tidak akan pernah takut, tidak pernah khawatir, hatinya akan selalu waspada karena Allah melihat kelebat hati setiap manusia …..
Mudah-mudahan ayat kursi enjadi prinsip hidup yang ideal . bukan sekedar mencapai target hitungan dan waktu ..karena tauhid adalah kehidupan dan keimanan yang tidak boleh ditentukan oleh jarak dan waktu.


Oleh      : Abu Sangkan

Sumber : http://www.dzikrullah.com

Peran Orangtua Terhadap Anak

Sebelum saya menjelaskan persoalan Anak ini, saya akan mengajak anda membaca berita tentang seorang pemain sirkus di Cairo Mesir, yang diceritakan kembali oleh Syekh Mustafa Mahmud dalam bukunya 'Aku Telah Melihat Allah'.

Harian yang terbit pada hari itu sangat menarik dengan adanya tajuk berita tentang sirkus yang mengadakan pertunjukan keliling yang mengalami peristiwa yang jarang, bahkan belum pernah terjadi pada tiap kali mengadakan pertunjukan. Pertunjukan kali ini dikejutkan dengan si harimau "Sultan" yang biasa menyajikan keterampilannya di hadapan penonton, berbalik menjadi buas dan menerkam pelatihnya dari belakang, sewaktu sang pelatih Muhammad Al Hulu menghadapkan dirinya ke arah penonton dan memberi hormat tanda terima kasih.

Mari kita baca berita selengkapnya apa yang di tulis wartawan harian tersebut:
Setelah tiba giliran untuk menyajikan pertunjukan keterampilan harimau, maka penonton pun bersorak dan bertepuk tanda gembira, yang memang adegan inilah yang sangat di nanti-nantikan, terutama kanak-kanak yang tiada putus-putusnya bersiul dan bersorak. Tidak lama dengan di iiringi tabuh genderang tersingkaplah tabir dari pintu belakang, maka keluarlah si Sultan, ... harimau yang terampil dan di belakangnya berjalan sang pelatih dengan senyum bangga dan di tangan kanannya ia memegang cemeti komando yang biasa di gunakan untuk memerintah si Sultan melakukan sesuatu kemahiran sesuai dengan kehendak sang pelatih, sang pelatih memulai mengangkat kedua tangannya tanda besiap-siap dan suara ramai mulai berkurang dan berhenti. pertunjukan pun di mulai.

Adegan demi adegan selesai di pertunjukkan, penonton menggeleng-nggelengkan kepala tak henti-hentinya terheran-terheran dibuat oleh kepandaian si harimau yang patuh pada perintah-perintah sang pelatih … Selesai adegan terakhir, pelatihpun menghadapkan mukanya ke arah penonton membalas sorak sorai dan memberi hormat tanda terima kasih, ... namun tiba-tiba secepat kilat tanpa didahului tanda-tanda apapun si Sultan yang tadinya jinak dan patuh, melompat ke arah punggung pelatihnya dengan muka yang buas dan garang, dengan auman yang menyeramkan terlihat taring giginya yang tajam dibenamkan ke dalam punggung si pelatih, dirobek kulit dan dagingnya yang menyebabkan lumuran darah yang menggenang di atas tanah. Pelatih yang dalam keadaan tersungkur di bawah tindihan harimau tak dapat sedikitpun mengelak dan mengadakan perlawanan.

Penonton setelah mengetahui dan melihat apa yang terjadi, saling lari tunggang langgang ribut cepat-cepat meninggalkan tempatnya, dan pada saat itu pula tampillah anak sipelatih dengan membawa sepotong tongkat besi berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan ayahnya, ... tak lama hanya beberapa hari di rumah sakit, meninggallah sang ayah dengan hanya meninggalkan pesan singkat "Jangan sakiti dan jangan dibunuh". Pelatih penjinak raja rimba meninggal dalam cengkeraman anak latihnya sendiri.

Sekarang mari kita tengok bagaimana halnya dengan si harimau. Setelah kejadian diatas dia langsung di masukkan ke dalam kandangnya, dan anehnya dia lebih banyak berdiam diri dari pada kebiasaannya jalan hilir mudik. Dia seakan-akan menyesali atas apa yang ia lakukan, sedih, melamun dan tidak mau makan. Hal ini segera dilaporkan kepada pimpinan, maka segera pimpinan sirkus menghubungi pengurus kebun binatang untuk memindahkan harimau. Pindahlah si harimau kekebun binatang dalam kandang besar dan lebih leluasa untuk bergerak. Enggan makan tetap tidak berubah walaupun sudah berada di kebun binatang, pengawas kebun binatang selalu mengawasi gerak-geriknya, lama-lama timbul pikiran" mungkin kalau disertai hewan betina maka ia kembali makan". Dipilihlah lawan betina, lalu segera di masukkan kedalam kandang" sipelamun yang enggan makan, begitu lawan betina masuk, tanpa ucapan selamat datang langsung disambut dengan raungan yang menyeramkan, diserang, dicakar, digigit dan didorong, itulah sambutannya, dia menampakkan kebencian dan kemarahannya … keluarlah si betina dan kembalilah si Sultan seorang diri.

Penyesalan yang mendalam makin hari makin nampak walau tanpa bicara sekalipun. Sepintas lalu orang dapat memahami arti sikapnya yang demikian, dia dihantui oleh perbuatannya sendiri, gambar dari peristiwa yang mengerikan tidak dapat dihilangkan dari ingatannya. Tebusan apakah yang dapat memadai dengan perbuatannya ??

Makanan yang selalu diberikan oleh si penjaga tidak lagi di jamah sama sekali, ... mogok makan ! Mungkin cara ini dapat memadai pikirnya, ah tidak ! belum memadai … gambaran-gambaran yang menyeramkan masih juga menghantui. Pada suatu hari, tibalah putusan terahir …" nyawa harus dibayar dengan nyawa' tidak lain ... syarafnya sudah berubah, putusannya sudah bulat, tindakannya sudah nekad. Dimarahinya diri sendiri, semula ekornya di belah dan di robek-robek, tiba sekarang gilirannya, tangan yang sudah ternoda dosa, dicaplok sendiri, dikunyak dan dilahapnya, dagingnya sendiri dimakan habis, dari tangan yang kanan berpindah ke tangan yang kiri, keduanya habislah sudah. Tangan-tangan yang sudah berbuat dosa, tiada tebusan lain melenyapkan kedua tangan tersebut. Baru sekarang tentramlah hatinya, dia sudah mengorbankan anggota badannya sendiri karena perbuatannya sendiri, ketentraman untuk selama-lamanya yang di iringi dengan kematiannya…..

Dari peristiwa diatas kita beralih ke diri kita, .... pada diri manusia, makhluk yang beradab, yang memiliki akal pikiran, memiliki nurani dan rasa, yang tahu sopan santun, tahu tata cara dan sebagainya. Sudah pernahkah kita mendengar pengorbanan manusia di karenakan penyesalan karena perbuatannya sendiri ? Pernahkah kita melihat manusia dengan penyesalannya memilih tebusan nyawanya ? Malahan kebalikannya yang kita dapati, manusia berbangga diri dengan kemenangan atas lawannya, hingga merupakan kebanggaan yang meluap-luap, dirayakan dengan iringan tabuh-tabuhan dan tari-tarian, dihidang-kan pula makanan lezat dan minuman segar. Jauh sekali dengan tindakan harimau diatas, kemenangannya dirayakan dengan tebusan nyawa…..

Sebenarnya sudah terjalin kasih sayang antara si harimau dengan sang pelatih, ucapan terkahir dari sang pelatih rupanya terdengar dengan si harimau, ucapan "jangan di sakiti dan jangan dibunuh" !! , maka ucapan ini di balas pula dengan ucapan jantan yang sesuai dengan martabat raja rimba. Timbul suatu pertanyaan mengapa seekor binatang memiliki pengertian dan menangkap keinginan kita. Bahkan bersikap seperti kepada indungnya, bersikap manja, mencari perhatian serta mengenal siapa tuannya. dan dia menangkap perasaan sedih dan kegembiraan tuannya … Dan dari peristiwa diatas terdapat kesimpulan, bahwa binatang yang berjuluk si raja Rimba ternyata bisa kita ajak berbicara, bergaul, bercanda, bermain, bermanja-manja, mengerti keinginan kita, mampu berkomunikasi dengan rasa, dan menangkap kecintaan dan kasih sayang yang dalam … dan ia menyesali atas kesalahan yang telah dilakukan terhadap tuannya ….tetapi mengapa manusia kadang tidak mampu menangkap keinginan kita ?? Bahkan sering mengabaikan kata-kata sebagai bahasa peradaban manusia yang tinggi. Entah berapa kali kita dinasehati oleh orang tua kita, oleh guru kita, akan tetapi mengapa kita tidak mampu mencerap nasehat itu, padahal bahasa itu sangat mudah dipahami…. Juga ketika berbicara kepada istri dan anak kita, terasa sekali kata-kata kita tidak menembus dan mengubahkan perilaku atau perasaan anak dan istri, sehingga tetap saja mereka melakukan hal yang tidak baik ... sampai-sampai kita menjadi marah bahkan ingin sekali memukulnya agar menuruti kemauan kita. Hampir tidak ada cara untuk mengatasi persoalan ini, untuk melampiaskannya kita mencoba mengirim anak-anak ke asrama atau pesantren yang dididik disiplin secara ketat, namun tetap saja masalah itu tidak teratasi, ... bahkan kadang anak kita tidak menjadi dirinya yang sebenarnya, karena doktrin yang mengekang perkembangan mental anak tersebut.

Rasa adalah sebuah penghubung keinginan kita

Ada saluran yang tidak terhubung kepada anak kita, selama ini kita berkomunikasi kepada anak kita menggunakan saluran gelombang suara yang menghantarkan susunan huruf yang mengandung arti tertentu (kata-kata), pesan-pesan dari mata (apa yang dilihat), telinga (yang didengar), peraba (apa yang disentuh), perasa (lidah), penciuman di bawa melalui thalamus. Thalamus bersama cortex adalah pusat yang menggabungkan informasi yang baru masuk supaya semua data yang masuk menjadi sebuah pengalaman … syaraf mendorong ke dalam dua tonjolan kecil di bagian dasar thalamus ini.

Dan manusia memiliki pengalaman karena data-data yang masuk menjadi sebuah pengertian. akan tetapi dari semua itu tidak tertulis data yang berasal dari "rasa" yang juga bisa memberikan masukan data yang disampaikan kepada thalamus untuk memberikan pengertian dan pengalaman, .karena rasa sayang itu bukan berasal dari sentuhan, penglihatan, kata-kata, dan instrumen tubuh …akan tetapi berasal dari rasa rohani yang memiliki banyak data untuk memberikan pengalaman bagi kita. Misalnya rasa cinta, rasa rindu, rasa gundah, rasa marah, rasa sayang …semua itu bukan dari data yang disampaikan oleh indra tubuh kita, akan tetapi dari rohani atau jiwa kita…

Kita telah menghilangkan data informasi yang paling penting dalam diri kita dan anak kita…setelah kita memberikan informasi berupa data-data, ... berupa apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang di sentuh …namun apa yang di rasa rupanya telah hilang. Kita telah meninggalkan komunikasi rasa yang memiliki muatan pengertian yang hakiki dan lengkap, ... kata-kata dan informasi yang diberikan oleh tubuh tidak mampu memberikan selengkap rasa, ... namun cinta dan kasih sayang memiliki kesempurnaan informasi dan tidak cacat !!

Jika hal ini anda informasikan kepada binatang, kepada tanaman, kepada benda-benda, ... maka informasi rasa itu akan ditangkapnya dan sebaliknya anda akan menangkap keinginan semua yang anda beri informasi tersebut…

Rasulullah menggambarkan adanya rasa ini adalah dengan di anjurkannya saling memberikan salam dan silaturrahmi, guna menghubungkan rasa yang memiliki data lengkap mengenai keinginan antara kita ! Sehingga mustahil kita akan terjadi konflik jika anda mengerti keinginan saya secara lengkap… lebih lengkap dari kata-kata….!!

Mari kita bahas secara khusus ..apakah silaturrahmi itu ??
Saya akan tunjukkan sebuah hadits Rasulullah mengenai hal ini.

"Shil man qatha aka …wa ahsin ila man asa'a ilaika. wakulil haqq walau `ala nafsika!!"Sambungkan silaturrahmi yang terputus, dan bersikaplah ihsan (baik) kepada orang yang membeci kamu, dan katakanlah kebenaran (secara jujur) walaupun kepada dirimu sendiri ( Hadits shahih riwayat Ali dari Ibnu Najar, kitab Jami'ush Shaghier jilid II hal. 44 )

Kalimat "Shil " adalah bentuk perintah (amar) berasal dari kata shalla-yashillu-shillatan, yang berarti menghubungkan …seperti pada kalimat "shilatur rahmi" menghubungkan rasa sayang ….

Seperti apa yang saya katakan diatas bahwa rahmi/ rahiem (rasa sayang) tidak termasuk indra dalam fisik kita yang selama ini memberikan informasi kepada otak untuk mendapatkan pengertian dan pengalamannya. Akan tetapi rasa sayang ini berasal dari rohani atau jiwa, sehingga kita membutuhkan pengertian lagi untuk mengetahui 'apa itu rasa' dan 'bagaimana' kita menghubungkan rasa itu kepada otak kita dan orang lain, walaupun orang lain itu tidak mampu menangkap rasa itu sebelumnya. Namun dikarenakan rasa itu bersifat rohani yang bisa di salurkan kedalam jiwa orang itu maupun kepada binatang maka orang itu akan menerima rasa itu dengan lengkap dan sempurna …

Pengalaman sehari-sehari kita sering menerapkan hal ini tanpa kita sadari, bagi orang yang penyayang binatang akan mengerti akan hal ini, karena rasa sayang ia salurkan setiap saat, sehingga binatang itu mampu menangkap pengertian yang disalurkan melalui rasa itu ….Rasa sayang benar-benar merupakan sarana untuk menghantarkan sebuah pengertian, seperti sebuah kalimat yang terangkai dalam intonasi dan artikulasi yang menghasilkan bunyi dan mengandung makna yang mampu menghubungkan sebuah pengertian yang biasa disebut dengan bahasa !!

Seorang bayi memiliki kepekaan menangkap informasinya melalui rasanya..dan seorang ibu adalah orang yang memiliki kemampuan memberikan informasi kepadanya, kadang melalui saat menyusui, ... saat dalam dekapan, … dalam kidung-kidung yang sejuk, serta dalam kecintaannya yang tulus ….

Dalam keadaan rasa tersambung itulah sang ibu memberikan informasi rasa sayang (silaturrahmi) yang akan menghantarkan keinginan dan keadaan jiwa orang tuanya. Jika ternyata orang tuanya memilki hati yang kotor, ... sang bayi akan menangkap dan akhirnya terkontaminasi oleh polusi jiwa orang tuanya, sehingga jangan heran jika anak-anak kita menjadi aneh pada usia yang sangat muda telah melakukan kejahatan yang tidak pernah kita ajarkan. Memang kita tidak pernah mengajarkan sesuatu yang buruk dihadapan anak kita, akan tetapi keadaan jiwa kita lah yang tertangkap oleh jiwa anak kita ketika masih bersih (fitrah)….Kita telah menghubungkan rasa buruk (silatus su') kepada jiwa anak kita … Mengapa uang hasil korupsi, hasil mencuri, hasil menipu itu di haramkan, padahal secara fisik makanan yang kita beli adalah yang terbaik dan bergizi, berlebel halal dari MUI, dan akan menyebabkan secara fisik membentuk pertubuhan yang baik dan sehat. Akan tetapi, ... karena jiwa sang ayah telah terkotori karena melanggar ketentuan Tuhannya dan mengabaikan kesucian jiwa, ... maka jiwa sang ayah telah memberikan informasi (mentransfer) kekotoran jiwanya kemudian di tangkap oleh jiwa anak-anak yang tidak tahu apa-apa ! Informasi inilah yang akan menuntun kejiwaan anak-anak ini untuk melakukan watak kejahatan-kejahatan yang baru diperolehnya tanpa disadarinya….

Sering kita mendengar mitos di dalam masyarakat tradisonal, hati-hati lho, kalau istri sedang hamil jangan membunuh binatang, ... jangan berkata rusuh (kotor) nanti anakmu cacat … Kalau saya tangkap pesan orang tua dulu, itu adalah bukan cacat secara fisik akan tetapi cacat mentalnya / jiwanya. Karena seseorang yang membunuh binatang bisa dipastikan dia menggunakan kejiwaan yang keji dan rasa benci yang timbul dalam jiwanya dan jiwa inilah yang akan tertangkap pertama kali oleh jiwa anak-anak kita yang pada akhirnya kita ikut andil meletakkan batu pertama kerusakan dimuka bumi ini dengan menyimpan memori kejahatan dibalik jiwa anak kita….

Akan tetapi jika jiwa kita bersih dan menjaga agar tetap bersih akan secara otomatis mengalirkan jiwa yang bersih kepada anak-anak kita …dan kita telah termasuk ikut andil dalam membangun masyarakat sakinah .

Rasulullah telah mencontohkannya dalam bergaul dan menghubungkan rasa sayang kepada kedua cucunya, beliau diminta merangkak untuk menjadi kuda-kudaan, dengan perasaan sayang Rasulullah menemani cucunya dengan sikap kekanak-kanakan yang beliau ekspresikan untuk menyenangkan kedua permata hatinya.

Rasulullah sangat mencintai istri-istrinya karena dengan cinta dan rasa sayang, para istri mampu menangkap keinginan dan pesan-pesan jiwa Rasulullah yang suci….
Mari kita perhatikan hubungan antara sang bayi dan ibunya ketika proses menyusui.Seorang ibu, yang keinginan untuk menyusuinya besar, akan lebih berhasil dalam usahanya dari pada ibu yang dari semula memang enggan. Dalam menyusui ada suatu kerja sama antara ibu dan anak, reaksi yang saling bersambut. Bila mulut bayi menyentuh puting susu ibunya, refleks penghisapnya segera bekerja, sedangkan pada ibunya agar susu bisa mengalir lancar, yang terjadi ; .... suatu hormon lain dari kelenjar bawah otak yang dinamakan oksitoksin akan menimbulkan kontraksi pada sel-sel lain sekitar alveoli, mengakibatkan susu mengalir turun ke arah puting, sehingga bisa di isap oleh bayi. Turunnya susu dari alveoli disebut refleks pengaliran susu. Refleks ini merupakan reaksi dari isapan bayi. Ibu dan bayi akan merasakan kenikmatan yang menyenangkan bila tubuh ibu telah terbiasa untuk kengalirkan susu. Emosi dan keadaan psikis si ibu sangat mempengaruhi refleks pengaliran susu ini, karena refleks ini pengontrol perintah yang dikirimkan oleh hipotalamus pada kelenjar bawah otak. Bila di pengaruhi ketegangan, rasa cemas, takut dan kebingungan, susu tak akan turun dari alveoli menuju puting. Hal ini sering terjadi pada hari-hari pertama waktu menyusui, di mana refleks si ibu belum sepenuhnya berfungsi, refleks pengaliran susu dapat berfungsi dengan baik hanya dalam suasana tenang, santai & tidak tegang. Suasana ini bisa dicapai bila si ibu punya kepercayaan pada diri sendiri bahwa ia pasti bisa menyusui. Dan dengan adanya rasa tenang dan gembira sangat mempengaruhi kejiwaan anak secara langsung melalui aliran jiwa yang bening ….

Lalu bagaimana mengalirkan informasi kejiwaan kepada anak-anak kita yang sudah beranjak dewasa ??

Rasululah menyarankan untuk bersilaturrahmi, mengirimkan rasa sayang dan gembira serta menerima anak-anak itu apa adanya … alirkanlah rasa sayang itu benar-benar dari jiwa yang bersih .... ketika ia sedang tidur ... ketika sedang bepergian ... dengan cara mendoakan secara khusus …dengan perasaan hening dan damai … lama kelamaan anak-anak kita akan mengerti kejiwaan secara
penuh dan sempurna …

Anak-anak anda akan menuruti kemauan anda dengan damai serta menerima dengan baik keinginan yang tersembunyi dalam pikiran dan perasaan anda. Mungkin inilah yang dimaksud dengan kecerdasan jiwa, yang telah lama di tinggalkan oleh kebanyakan orang islam ..

Doakan anak-anak kita dengan getaran jiwa yang bersih, biasanya getaran itu bersambung … kadang-kadang anak-anak itu melaksanakan keinginan kita yang belum terucapkan kepada mereka … rasakan getaran sayang anda … rasakan dan masukkan pesan-pesan anda dalam doa … hantarkan jiwa mereka menuju kepada Allah … hantarkan dengan rasa cinta … tetaplah dalam dekapan sayang … agar anda merasakan hangatnya cinta itu … biarkan hati anda memandang jiwa mereka dengan bening …

Lakukanlah sesering mungkin, ... .insya Allah jiwa anak-anak kita akan menerima pesan-pesan secara lengkap …. dari jiwa kita yang bergantung pasrah kepada Allah….

Suatu ketika saya kedatangan seorang tamu, ... mengeluhkan anaknya yang terjerumus kedalam pergaulan generasi pengguna narkontika … sang ibu bingung karena anaknya jarang pulang. Saya menyarankan kepada ibu ini agar bersujud menghubungkan rohaninya kepada Allah kemudian mengeluhkannya kepada-Nya … dan mengalirkan perasaannya kepada jiwa anaknya yang telah
terjerumus ini … tidak lama kemudian anaknya pulang, ... kemudian tanpa di suruh dan diperintahkan apa-apa oleh ibunya … tiba-tiba dia ingin terbebas dari kecanduan narkotika (jenis putau) … Dengan keinginan yang tulus, akhirnya anak tersebut sembuh secara total bahkan melaksanakan shalat yang wajib !!

Dan kepada orang yang membenci kalian, Rasulullah menganjurkan agar posisi jiwa kita tetap bersih …tanpa membalas kebencian itu, ... karena silaturrahmi kita tidak akan sampai kepada jiwa dia yang sedang sakit, untuk itu pertahankanlah kebesihan jiwa kita agar kita bisa berkomunikasi kepada siapa saja dengan jiwa yang mampu menembus ... alam-alam yang jauh disana …

Seorang ibu yang telah terhubung perasaannya dengan anaknya yang berada jauh di perantauan, akan merasakan getaran jiwa anaknya yang sedang dilanda kegalauan dan persoalan yang terjadi padanya. Ini dikarenakan rasa jujur dari seorang ibunya yang mengalirkan rasa cinta dan sayang, sehingga rasa itu ditangkap oleh jiwa anak itu… Akan tetapi jika rasa sayang yang mengalir kedalam jiwa anak itu tidak memberikan pesan apa-apa, maka jadilah anak itu menjadi anak yang hanya bermanja-manja, dikarenakan rasa itu tidak mengirimkan sinyal informasi keinginan kita, ... kecuali kekosongan. Atau sebaliknya jika rasa sayang itu mengalir dengan keadaan jiwa kotor maka "rasa" itu memuat keadaan keburukan jiwa kita, ... hal ini bukan seperti yang disebut dengan dosa warisan dalam ajaran kristiani, karena hanya bersifat informasi seperti halnya anda mendapatkan informasi dari pesan-pesan yang di muat dalam bentuk suara (rumus-rumus huruf / kalimat ), gelombang radio, gelombang UHF dll. …

Demikian kiranya informasi yang saya utarakan merupakan keadaan yang mudah kita laksanakan, asalkan kita mampu membersihkan jiwa kita dengan banyak berdzikir kepada Allah…dengan banyak berdzikir kepada Allah jiwa kita akan menjadi tenang ..dan ketenangan jiwa inilah yang bersifat universal mampu menghantarkan muatan pengertian yang terkandung dalam jiwa kita ….

Namun dari semua itu saya tidak berani mengatakan bahwa jiwa kita yang kotorlah yang ikut andil besar dalam merusak mental anak-anak kita …hal ini saya hanya menampilkan sebuah faktor yang paling penting dari semua pengaruh terhadap mental anak kita … Karena itu, saya menggantungkan kepada Allah semata …dengan menyerahkan kepada Allah melalui doa-doa, ... karena sehebat apapun kita …tetap Allah jualah yang akan membukakan hidayah untuk anak-anak kita …innaka la tahdi man ahbabta…sesungguhnya kalian tidak akan mampu membukakan hidayah kepada orang yang kamu cintai sekalipun ….

Demikian uraian saya agar menjadi renungan kita bersama ….setelah kita berusaha membimbing anak-anak kita …mari kita berdoa dengan tulus untuk jiwa anak-anak kita .

Ya Allah …berkehendaklah …terhadap diriku dan anak cucuku ……


Oleh      : Abu Sangkan
Sumber : http://www.dzikrullah.com