Sebelum saya menjelaskan persoalan Anak
ini, saya akan mengajak anda membaca berita tentang seorang pemain
sirkus di Cairo Mesir, yang diceritakan kembali oleh Syekh Mustafa
Mahmud dalam bukunya 'Aku Telah Melihat Allah'.
Harian
yang terbit pada hari itu sangat menarik dengan adanya tajuk berita
tentang sirkus yang mengadakan pertunjukan keliling yang mengalami
peristiwa yang jarang, bahkan belum pernah terjadi pada tiap kali
mengadakan pertunjukan. Pertunjukan kali ini dikejutkan dengan si
harimau "Sultan" yang biasa menyajikan keterampilannya di hadapan
penonton, berbalik menjadi buas dan menerkam pelatihnya dari belakang,
sewaktu sang pelatih Muhammad Al Hulu menghadapkan dirinya ke arah
penonton dan memberi hormat tanda terima kasih.
Mari kita baca berita selengkapnya apa yang di tulis wartawan harian tersebut:
Mari kita baca berita selengkapnya apa yang di tulis wartawan harian tersebut:
Setelah
tiba giliran untuk menyajikan pertunjukan keterampilan harimau, maka
penonton pun bersorak dan bertepuk tanda gembira, yang memang adegan
inilah yang sangat di nanti-nantikan, terutama kanak-kanak
yang tiada putus-putusnya bersiul dan bersorak. Tidak lama dengan di
iiringi tabuh genderang tersingkaplah tabir dari pintu belakang, maka
keluarlah si Sultan, ... harimau yang terampil dan di belakangnya
berjalan sang pelatih dengan senyum bangga dan di tangan kanannya ia
memegang cemeti komando yang biasa di gunakan untuk memerintah si Sultan
melakukan sesuatu kemahiran sesuai dengan kehendak sang pelatih, sang
pelatih memulai mengangkat kedua tangannya tanda besiap-siap dan suara
ramai mulai berkurang dan berhenti. pertunjukan pun di mulai.
Adegan
demi adegan selesai di pertunjukkan, penonton menggeleng-nggelengkan
kepala tak henti-hentinya terheran-terheran dibuat oleh kepandaian si
harimau yang patuh pada perintah-perintah sang pelatih … Selesai adegan
terakhir, pelatihpun menghadapkan mukanya ke arah penonton membalas
sorak sorai dan memberi hormat tanda terima kasih, ... namun tiba-tiba
secepat kilat tanpa didahului tanda-tanda apapun si Sultan yang tadinya
jinak dan patuh, melompat ke arah punggung pelatihnya dengan muka yang
buas dan garang, dengan auman yang menyeramkan terlihat taring giginya
yang tajam dibenamkan ke dalam punggung si pelatih, dirobek kulit dan
dagingnya yang menyebabkan lumuran darah yang menggenang di atas tanah.
Pelatih yang dalam keadaan tersungkur di bawah tindihan harimau tak
dapat sedikitpun mengelak dan mengadakan perlawanan.
Penonton
setelah mengetahui dan melihat apa yang terjadi, saling lari tunggang
langgang ribut cepat-cepat meninggalkan tempatnya, dan pada saat itu
pula tampillah anak
sipelatih dengan membawa sepotong tongkat besi berusaha sekuat tenaga
untuk menyelamatkan ayahnya, ... tak lama hanya beberapa hari di rumah
sakit, meninggallah sang ayah dengan hanya meninggalkan pesan singkat
"Jangan sakiti dan jangan dibunuh". Pelatih penjinak raja rimba
meninggal dalam cengkeraman anak latihnya sendiri.
Sekarang
mari kita tengok bagaimana halnya dengan si harimau. Setelah kejadian
diatas dia langsung di masukkan ke dalam kandangnya, dan anehnya dia
lebih banyak berdiam diri dari pada kebiasaannya jalan hilir mudik. Dia
seakan-akan menyesali atas apa yang ia lakukan, sedih, melamun dan tidak
mau makan. Hal ini segera dilaporkan kepada pimpinan, maka segera
pimpinan sirkus menghubungi pengurus kebun binatang untuk memindahkan
harimau. Pindahlah si harimau kekebun binatang dalam kandang besar dan
lebih leluasa untuk bergerak. Enggan makan tetap tidak berubah walaupun
sudah berada di kebun binatang, pengawas kebun binatang selalu mengawasi
gerak-geriknya, lama-lama timbul pikiran" mungkin kalau disertai hewan
betina maka ia kembali makan". Dipilihlah lawan betina, lalu segera di
masukkan kedalam kandang" sipelamun yang enggan makan, begitu lawan
betina masuk, tanpa ucapan selamat datang langsung disambut dengan
raungan yang menyeramkan, diserang, dicakar, digigit dan didorong,
itulah sambutannya, dia menampakkan kebencian dan kemarahannya …
keluarlah si betina dan kembalilah si Sultan seorang diri.
Penyesalan
yang mendalam makin hari makin nampak walau tanpa bicara sekalipun.
Sepintas lalu orang dapat memahami arti sikapnya yang demikian, dia
dihantui oleh perbuatannya sendiri, gambar dari peristiwa yang
mengerikan tidak dapat dihilangkan dari ingatannya. Tebusan apakah yang
dapat memadai dengan perbuatannya ??
Makanan
yang selalu diberikan oleh si penjaga tidak lagi di jamah sama sekali,
... mogok makan ! Mungkin cara ini dapat memadai pikirnya, ah tidak !
belum memadai … gambaran-gambaran yang menyeramkan masih juga
menghantui. Pada suatu hari, tibalah putusan terahir …" nyawa harus
dibayar dengan nyawa' tidak lain ... syarafnya sudah berubah, putusannya
sudah bulat, tindakannya sudah nekad. Dimarahinya diri sendiri, semula
ekornya di belah dan di robek-robek, tiba sekarang gilirannya, tangan
yang sudah ternoda dosa, dicaplok sendiri, dikunyak dan dilahapnya,
dagingnya sendiri dimakan habis, dari tangan yang kanan berpindah ke
tangan yang kiri, keduanya habislah sudah. Tangan-tangan yang sudah
berbuat dosa, tiada tebusan lain melenyapkan kedua tangan tersebut. Baru
sekarang tentramlah hatinya, dia sudah mengorbankan anggota badannya
sendiri karena perbuatannya sendiri, ketentraman untuk selama-lamanya
yang di iringi dengan kematiannya…..
Dari
peristiwa diatas kita beralih ke diri kita, .... pada diri manusia,
makhluk yang beradab, yang memiliki akal pikiran, memiliki nurani dan
rasa, yang tahu sopan santun, tahu tata cara dan sebagainya. Sudah
pernahkah kita mendengar pengorbanan manusia di karenakan penyesalan
karena perbuatannya sendiri ? Pernahkah kita melihat manusia dengan penyesalannya
memilih tebusan nyawanya ? Malahan kebalikannya yang kita dapati,
manusia berbangga diri dengan kemenangan atas lawannya, hingga merupakan
kebanggaan yang meluap-luap, dirayakan dengan iringan tabuh-tabuhan dan
tari-tarian, dihidang-kan pula makanan lezat dan minuman segar. Jauh
sekali dengan tindakan harimau diatas, kemenangannya dirayakan dengan
tebusan nyawa…..
Sebenarnya sudah terjalin kasih sayang
antara si harimau dengan sang pelatih, ucapan terkahir dari sang
pelatih rupanya terdengar dengan si harimau, ucapan "jangan di sakiti
dan jangan dibunuh" !! , maka ucapan ini di balas pula dengan ucapan
jantan yang sesuai dengan martabat raja rimba. Timbul suatu pertanyaan
mengapa seekor binatang memiliki pengertian dan menangkap keinginan
kita. Bahkan bersikap seperti kepada indungnya, bersikap manja, mencari
perhatian serta mengenal siapa tuannya. dan dia menangkap perasaan sedih
dan kegembiraan tuannya … Dan dari peristiwa diatas terdapat
kesimpulan, bahwa binatang yang berjuluk si raja Rimba ternyata bisa
kita ajak berbicara, bergaul, bercanda, bermain, bermanja-manja,
mengerti keinginan kita, mampu berkomunikasi dengan rasa, dan menangkap
kecintaan dan kasih sayang yang dalam … dan ia menyesali atas kesalahan
yang telah dilakukan terhadap tuannya ….tetapi mengapa manusia kadang
tidak mampu menangkap keinginan kita ?? Bahkan sering mengabaikan
kata-kata sebagai bahasa peradaban manusia yang tinggi. Entah berapa
kali kita dinasehati oleh orang tua kita, oleh guru kita, akan tetapi
mengapa kita tidak mampu mencerap nasehat itu, padahal bahasa itu sangat
mudah dipahami…. Juga ketika berbicara kepada istri dan anak kita,
terasa sekali kata-kata kita tidak menembus dan mengubahkan perilaku
atau perasaan anak dan istri, sehingga tetap saja mereka melakukan hal
yang tidak baik ... sampai-sampai kita menjadi marah bahkan ingin sekali
memukulnya agar menuruti kemauan kita. Hampir tidak ada cara untuk
mengatasi persoalan ini, untuk melampiaskannya kita mencoba mengirim
anak-anak ke asrama atau pesantren yang dididik disiplin secara ketat,
namun tetap saja masalah itu tidak teratasi, ... bahkan kadang anak kita
tidak menjadi dirinya yang sebenarnya, karena doktrin yang mengekang
perkembangan mental anak tersebut.
Rasa adalah sebuah penghubung keinginan kita
Ada saluran yang tidak terhubung kepada anak kita, selama ini kita berkomunikasi kepada anak
kita menggunakan saluran gelombang suara yang menghantarkan susunan
huruf yang mengandung arti tertentu (kata-kata), pesan-pesan dari mata
(apa yang dilihat), telinga (yang didengar), peraba (apa yang disentuh),
perasa (lidah), penciuman di bawa melalui thalamus. Thalamus bersama
cortex adalah pusat yang menggabungkan informasi yang baru masuk supaya
semua data yang masuk menjadi sebuah pengalaman … syaraf mendorong ke
dalam dua tonjolan kecil di bagian dasar thalamus ini.
Dan
manusia memiliki pengalaman karena data-data yang masuk menjadi sebuah
pengertian. akan tetapi dari semua itu tidak tertulis data yang berasal
dari "rasa" yang juga bisa memberikan masukan data yang disampaikan
kepada thalamus untuk memberikan pengertian dan pengalaman, .karena rasa
sayang itu bukan berasal dari sentuhan, penglihatan, kata-kata, dan
instrumen tubuh …akan tetapi berasal dari rasa rohani yang memiliki
banyak data untuk memberikan pengalaman bagi kita. Misalnya rasa cinta,
rasa rindu, rasa gundah, rasa marah, rasa sayang …semua itu bukan dari
data yang disampaikan oleh indra tubuh kita, akan tetapi dari rohani
atau jiwa kita…
Kita
telah menghilangkan data informasi yang paling penting dalam diri kita
dan anak kita…setelah kita memberikan informasi berupa data-data, ...
berupa apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang di sentuh …namun
apa yang di rasa rupanya telah hilang. Kita telah meninggalkan
komunikasi rasa yang memiliki muatan pengertian yang hakiki dan lengkap,
... kata-kata dan informasi yang diberikan oleh tubuh tidak mampu
memberikan selengkap rasa, ... namun cinta dan kasih sayang memiliki kesempurnaan informasi dan tidak cacat !!
Jika
hal ini anda informasikan kepada binatang, kepada tanaman, kepada
benda-benda, ... maka informasi rasa itu akan ditangkapnya dan
sebaliknya anda akan menangkap keinginan semua yang anda beri informasi
tersebut…
Rasulullah
menggambarkan adanya rasa ini adalah dengan di anjurkannya saling
memberikan salam dan silaturrahmi, guna menghubungkan rasa yang memiliki
data lengkap mengenai keinginan antara kita ! Sehingga mustahil kita
akan terjadi konflik jika anda mengerti keinginan saya secara lengkap…
lebih lengkap dari kata-kata….!!
Mari kita bahas secara khusus ..apakah silaturrahmi itu ??
Saya akan tunjukkan sebuah hadits Rasulullah mengenai hal ini.
"Shil man qatha aka …wa ahsin ila man asa'a ilaika. wakulil haqq walau `ala nafsika!!"Sambungkan silaturrahmi yang terputus, dan bersikaplah ihsan (baik) kepada orang yang membeci kamu, dan katakanlah kebenaran (secara jujur) walaupun kepada dirimu sendiri ( Hadits shahih riwayat Ali dari Ibnu Najar, kitab Jami'ush Shaghier jilid II hal. 44 )
Kalimat
"Shil " adalah bentuk perintah (amar) berasal dari kata
shalla-yashillu-shillatan, yang berarti menghubungkan …seperti pada
kalimat "shilatur rahmi" menghubungkan rasa sayang ….
Seperti
apa yang saya katakan diatas bahwa rahmi/ rahiem (rasa sayang) tidak
termasuk indra dalam fisik kita yang selama ini memberikan informasi
kepada otak untuk mendapatkan pengertian dan pengalamannya. Akan tetapi
rasa sayang ini berasal dari rohani atau jiwa, sehingga kita membutuhkan
pengertian lagi untuk mengetahui 'apa itu rasa' dan 'bagaimana' kita
menghubungkan rasa itu kepada otak kita dan orang lain, walaupun orang
lain itu tidak mampu menangkap rasa itu sebelumnya. Namun dikarenakan
rasa itu bersifat rohani yang bisa di salurkan kedalam jiwa orang itu
maupun kepada binatang maka orang itu akan menerima rasa itu dengan
lengkap dan sempurna …
Pengalaman
sehari-sehari kita sering menerapkan hal ini tanpa kita sadari, bagi
orang yang penyayang binatang akan mengerti akan hal ini, karena rasa
sayang ia salurkan setiap saat, sehingga binatang itu mampu menangkap
pengertian yang disalurkan melalui rasa itu ….Rasa sayang benar-benar
merupakan sarana untuk menghantarkan sebuah pengertian, seperti sebuah
kalimat yang terangkai dalam intonasi dan artikulasi yang menghasilkan
bunyi dan mengandung makna yang mampu menghubungkan sebuah pengertian
yang biasa disebut dengan bahasa !!
Seorang
bayi memiliki kepekaan menangkap informasinya melalui rasanya..dan
seorang ibu adalah orang yang memiliki kemampuan memberikan informasi
kepadanya, kadang melalui saat menyusui, ... saat dalam dekapan, … dalam
kidung-kidung yang sejuk, serta dalam kecintaannya yang tulus ….
Dalam
keadaan rasa tersambung itulah sang ibu memberikan informasi rasa
sayang (silaturrahmi) yang akan menghantarkan keinginan dan keadaan jiwa
orang tuanya. Jika ternyata orang tuanya memilki hati yang kotor, ...
sang bayi akan menangkap dan akhirnya terkontaminasi oleh polusi jiwa
orang tuanya, sehingga jangan heran jika anak-anak kita menjadi aneh
pada usia yang sangat muda telah melakukan kejahatan yang tidak pernah
kita ajarkan. Memang kita tidak pernah mengajarkan sesuatu yang buruk
dihadapan anak kita, akan tetapi keadaan jiwa kita lah yang tertangkap
oleh jiwa anak kita ketika masih bersih (fitrah)….Kita telah
menghubungkan rasa buruk (silatus su') kepada jiwa anak
kita … Mengapa uang hasil korupsi, hasil mencuri, hasil menipu itu di
haramkan, padahal secara fisik makanan yang kita beli adalah yang
terbaik dan bergizi, berlebel halal dari MUI, dan akan menyebabkan
secara fisik membentuk pertubuhan yang baik dan sehat. Akan tetapi, ...
karena jiwa sang ayah telah terkotori karena melanggar ketentuan
Tuhannya dan mengabaikan kesucian jiwa, ... maka jiwa sang ayah telah
memberikan informasi (mentransfer) kekotoran jiwanya kemudian di tangkap
oleh jiwa anak-anak yang tidak tahu apa-apa ! Informasi inilah yang
akan menuntun kejiwaan anak-anak ini untuk melakukan watak
kejahatan-kejahatan yang baru diperolehnya tanpa disadarinya….
Sering
kita mendengar mitos di dalam masyarakat tradisonal, hati-hati lho,
kalau istri sedang hamil jangan membunuh binatang, ... jangan berkata
rusuh (kotor) nanti anakmu cacat … Kalau saya tangkap pesan orang tua
dulu, itu adalah bukan cacat secara fisik akan tetapi cacat mentalnya /
jiwanya. Karena seseorang yang membunuh binatang bisa dipastikan dia
menggunakan kejiwaan yang keji dan rasa benci yang timbul dalam jiwanya
dan jiwa inilah yang akan tertangkap pertama kali oleh jiwa anak-anak kita
yang pada akhirnya kita ikut andil meletakkan batu pertama kerusakan
dimuka bumi ini dengan menyimpan memori kejahatan dibalik jiwa anak
kita….
Akan
tetapi jika jiwa kita bersih dan menjaga agar tetap bersih akan secara
otomatis mengalirkan jiwa yang bersih kepada anak-anak kita …dan kita
telah termasuk ikut andil dalam membangun masyarakat sakinah .
Rasulullah
telah mencontohkannya dalam bergaul dan menghubungkan rasa sayang
kepada kedua cucunya, beliau diminta merangkak untuk menjadi
kuda-kudaan, dengan perasaan sayang Rasulullah menemani cucunya dengan
sikap kekanak-kanakan yang beliau ekspresikan untuk menyenangkan kedua
permata hatinya.
Rasulullah sangat mencintai istri-istrinya karena dengan cinta dan rasa sayang, para istri mampu menangkap keinginan dan pesan-pesan jiwa Rasulullah yang suci….
Mari
kita perhatikan hubungan antara sang bayi dan ibunya ketika proses
menyusui.Seorang ibu, yang keinginan untuk menyusuinya besar, akan lebih
berhasil dalam usahanya dari pada ibu yang dari semula memang enggan.
Dalam menyusui ada suatu kerja sama antara ibu dan anak, reaksi yang
saling bersambut. Bila mulut bayi menyentuh puting susu ibunya, refleks
penghisapnya segera bekerja, sedangkan pada ibunya agar susu bisa
mengalir lancar, yang terjadi ; .... suatu hormon lain dari kelenjar
bawah otak yang dinamakan oksitoksin akan menimbulkan kontraksi pada
sel-sel lain sekitar alveoli, mengakibatkan susu mengalir turun ke arah
puting, sehingga bisa di isap oleh bayi. Turunnya susu dari alveoli
disebut refleks pengaliran susu. Refleks ini merupakan reaksi dari
isapan bayi. Ibu dan bayi akan merasakan kenikmatan yang menyenangkan
bila tubuh ibu telah terbiasa untuk kengalirkan susu. Emosi dan keadaan
psikis si ibu sangat mempengaruhi refleks pengaliran susu ini, karena
refleks ini pengontrol perintah yang dikirimkan oleh hipotalamus pada
kelenjar bawah otak. Bila di pengaruhi ketegangan, rasa cemas, takut dan
kebingungan, susu tak akan turun dari alveoli menuju puting. Hal ini
sering terjadi pada hari-hari pertama waktu menyusui, di mana refleks si
ibu belum sepenuhnya berfungsi, refleks pengaliran susu dapat berfungsi
dengan baik hanya dalam suasana tenang, santai & tidak tegang.
Suasana ini bisa dicapai bila si ibu punya kepercayaan pada diri sendiri
bahwa ia pasti bisa menyusui. Dan dengan adanya rasa tenang dan gembira
sangat mempengaruhi kejiwaan anak secara langsung melalui aliran jiwa
yang bening ….
Lalu bagaimana mengalirkan informasi kejiwaan kepada anak-anak kita yang sudah beranjak dewasa ??
Rasululah
menyarankan untuk bersilaturrahmi, mengirimkan rasa sayang dan gembira
serta menerima anak-anak itu apa adanya … alirkanlah rasa sayang itu
benar-benar dari jiwa yang bersih .... ketika ia sedang tidur ... ketika
sedang bepergian ... dengan cara mendoakan secara khusus …dengan
perasaan hening dan damai … lama kelamaan anak-anak kita akan mengerti
kejiwaan secara
penuh dan sempurna …
Anak-anak
anda akan menuruti kemauan anda dengan damai serta menerima dengan baik
keinginan yang tersembunyi dalam pikiran dan perasaan anda. Mungkin
inilah yang dimaksud dengan kecerdasan jiwa, yang telah lama di
tinggalkan oleh kebanyakan orang islam ..
Doakan
anak-anak kita dengan getaran jiwa yang bersih, biasanya getaran itu
bersambung … kadang-kadang anak-anak itu melaksanakan keinginan kita
yang belum terucapkan kepada mereka … rasakan getaran sayang anda …
rasakan dan masukkan pesan-pesan anda dalam doa … hantarkan jiwa mereka
menuju kepada Allah … hantarkan dengan rasa cinta … tetaplah dalam
dekapan sayang … agar anda merasakan hangatnya cinta itu … biarkan hati
anda memandang jiwa mereka dengan bening …
Lakukanlah
sesering mungkin, ... .insya Allah jiwa anak-anak kita akan menerima
pesan-pesan secara lengkap …. dari jiwa kita yang bergantung pasrah
kepada Allah….
Suatu
ketika saya kedatangan seorang tamu, ... mengeluhkan anaknya yang
terjerumus kedalam pergaulan generasi pengguna narkontika … sang ibu bingung
karena anaknya jarang pulang. Saya menyarankan kepada ibu ini agar
bersujud menghubungkan rohaninya kepada Allah kemudian mengeluhkannya
kepada-Nya … dan mengalirkan perasaannya kepada jiwa anaknya yang telah
terjerumus
ini … tidak lama kemudian anaknya pulang, ... kemudian tanpa di suruh
dan diperintahkan apa-apa oleh ibunya … tiba-tiba dia ingin terbebas
dari kecanduan narkotika (jenis putau) … Dengan keinginan yang tulus,
akhirnya anak tersebut sembuh secara total bahkan melaksanakan shalat
yang wajib !!
Dan
kepada orang yang membenci kalian, Rasulullah menganjurkan agar posisi
jiwa kita tetap bersih …tanpa membalas kebencian itu, ... karena
silaturrahmi kita tidak akan sampai kepada jiwa dia yang sedang sakit,
untuk itu pertahankanlah kebesihan jiwa kita agar kita bisa
berkomunikasi kepada siapa saja dengan jiwa yang mampu menembus ...
alam-alam yang jauh disana …
Seorang ibu yang telah terhubung perasaannya dengan anaknya
yang berada jauh di perantauan, akan merasakan getaran jiwa anaknya
yang sedang dilanda kegalauan dan persoalan yang terjadi padanya. Ini
dikarenakan rasa jujur dari seorang ibunya yang mengalirkan rasa cinta
dan sayang, sehingga rasa itu ditangkap oleh jiwa anak itu… Akan tetapi
jika rasa sayang yang mengalir kedalam jiwa anak itu tidak memberikan
pesan apa-apa, maka jadilah anak itu menjadi anak yang hanya
bermanja-manja, dikarenakan rasa itu tidak mengirimkan sinyal informasi
keinginan kita, ... kecuali kekosongan. Atau sebaliknya jika rasa sayang
itu mengalir dengan keadaan jiwa kotor maka "rasa" itu memuat keadaan
keburukan jiwa kita, ... hal ini bukan seperti yang disebut dengan dosa
warisan dalam ajaran kristiani, karena hanya bersifat informasi seperti
halnya anda mendapatkan informasi dari pesan-pesan yang di muat dalam
bentuk suara (rumus-rumus huruf / kalimat ), gelombang radio, gelombang
UHF dll. …
Demikian kiranya informasi yang saya utarakan merupakan keadaan yang mudah kita laksanakan, asalkan kita mampu membersihkan jiwa
kita dengan banyak berdzikir kepada Allah…dengan banyak berdzikir
kepada Allah jiwa kita akan menjadi tenang ..dan ketenangan jiwa inilah
yang bersifat universal mampu menghantarkan muatan pengertian yang
terkandung dalam jiwa kita ….
Namun
dari semua itu saya tidak berani mengatakan bahwa jiwa kita yang
kotorlah yang ikut andil besar dalam merusak mental anak-anak kita …hal
ini saya hanya menampilkan sebuah faktor yang paling penting dari semua
pengaruh terhadap mental anak kita … Karena itu, saya menggantungkan
kepada Allah semata …dengan menyerahkan kepada Allah melalui doa-doa,
... karena sehebat apapun kita …tetap Allah jualah yang akan membukakan
hidayah untuk anak-anak kita …innaka la tahdi man ahbabta…sesungguhnya
kalian tidak akan mampu membukakan hidayah kepada orang yang kamu cintai
sekalipun ….
Demikian
uraian saya agar menjadi renungan kita bersama ….setelah kita berusaha
membimbing anak-anak kita …mari kita berdoa dengan tulus untuk jiwa anak-anak kita .
Ya Allah …berkehendaklah …terhadap diriku dan anak cucuku ……
Oleh : Abu Sangkan
Sumber : http://www.dzikrullah.com




0 komentar:
Posting Komentar